NewsSulsel

Konflik Tanamalia, Petani Lada Minta PT Vale Tidak Membuat Berita Bohong

#PT Vale Klaim Lakukan Pertemuan Petani Lada Terkait Konflik Tanamalia

LUWU TIMUR, NEWSURBAN.ID — Konflik PT Vale Indonesia, Tbk., dan petani Lada di Blok Tanamalia, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, memanas. Pihak Vale mengklaim telah melakukan pertemuan dan berdiskusi bersama Petani Lada Loeha Raya di Taman Antar Bangsa (TAB), Sorowako, di Kabupaten Luwu Timur, Jumat 15 Maret 2024.

Pertemuan itu, membahas terkait konflik Petani Merica dengan PT Vale wilayah Blok Tanamalia dan adanya kesepakatan untuk-dilakukan penambangan di Tanamalia.

Klaim-an itu, membuat Asosiasi Petani Lada Loeha Raya murkah dan menyayangkan sikap PT Vale dan terkesan mengada-ada.

Baca Juga: Terima Saran Pj Gubernur Sulsel, PT Vale Akan Tanam Sukun untuk Rehabilitasi Lahan Tambang

“Menyayangkan PT Vale yang mengklaim telah bertemu Masyarakat beberapa hari lalu. Serta menyebarkan informasi tidak benar bahwa masyarakat setuju agar Vale menjalan pertambangan yang baik di Tanamalia,” kata Ketua Asosiasi Petani Lada Loeha Raya, Yahya Muchtar, Kamis 21 Maret 2024.

Yahya menegaskan, pertemuan yang di selenggarkan PT Vale, tidak mewakili masyarakat Loeha Raya. Menurutnya, pertemuan itu hanya di ikuti oleh orang yang tidak punya kebun di Tanamalia.

“Pertemuan tersebut tidak mewakili masyarkat Loeha Raya. Apalagi tidak melibatkan petani dan perempuan di Loeha Raya, sehingga kami minta PT Vale tidak membuat berita bohong,” ujar Yahya.

Baca Juga: Besok, Ribuan Petani Merica Akan Menduduki Kantor PT Vale

Kalau pun PT Vale menerapkan Good Mining Practices. Katanya, bukan menjadi solusi bagi petani. Menurut  Yahya, justru malah merugikan masyarakat dan akan dampak adanya perusahan. Serta mengakibatkan kerusakan lingkungan dan perekonomian petani.

“Walapun pihak PT Vale menerapkan good mining practice. Tidak menjamin kebun petani terbebas dari dampak tambang. Justru malah merusak lingkungan dan perkebun kami,” lanjut dia.

Asosisasi Petani Lada Loeha Raya akan terus berjuang menolak pertambangan PT Vale Indonesia di Blok tanamalia kerena mengancam lingkungan dan perkebunan milik petani Loeha Raya yang hasilnya sudah lama di rasakan oleh masyarakat.

Baca Juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Video Beredar Danau Matano Tercemar Akibat Aktivitas Tambang PT Vale?

“Kami dari Asosisasi akan terus berjuang menolak pertambangan PT Vale Indonesia khususnya yang ada di blok tanamalia. Karena pertambangan akan merusak lingkungan dan perkebunan. Karena dari lama mi kami menikmati hasil perkebun lada,” tutup Yahya.

Salah satu petani Lada, Ali Kamri Nawir menyebutkan pertemuan masyarakat di lakukan pihak PT Vale itu tidak mewakili aspirasi masyarakat se-Loeha Raya.

“Pertemuan tersebut sama sekali tidak mewakili aspirasi kami. Seharusnya PT Vale langsung temui kami  di seberang, untuk membahas soal konflik yang ada di Loeha Raya,” akunya.

Baca Juga: Deretan Masalah PT Vale dan Warga Luwu Timur Tak Kunjung Usai

Ali mengungkapkan, telah mengundang PT Vale untuk bertemu dan berdialog langsung dengan petani Loeha Raya. Namun, kata dia, sampai saat ini tak kunjung menemui petani.

“Kami beberapa kali mengundang pihak PT Vale untuk bertemu langsung dengan masyarakat Loeha Raya. Tapi tidak pernah hadir di kampung temui kami,” tandasnya,

Sebelumnya, PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) menggelar diskusi bersama masyarakat Loeha Raya di Taman Antar Bangsa (TAB), Sorowako, Jumat 15 Maret 2024.

Baca Juga: Libatkan Polisi Intimidasi Warga Terkait Old Camp, LBH Makassar Anggap PT Vale Langgar HAM

Pertemuan itu, PT Vale memastikan segala operasi perusahaan menerapkan goog mining practices dengan mengadaptasi tata kelola yang sudah di terapkan sebelumnya di Blok Sorowako.

“Kita siap mendengarkan apa yang ingin di sampaikan masyarakat. Agar kita bisa bertumbuh bersama membangun Luwu Timur. Kita ingin menjadi smart model pembangunan berkelanjutan bagi industri pertambangan di Indonesia,” ungkap Director Exploration Geoscience and Study PT Vale, Andy Yustian.

Ia menuturkan, PT Vale senantiasa melakukan kajian kerentanan masyarakat melalui social economic baseline dan rencana pengelolaan pemangku kepentingan proyek (Stakeholder Management Plan).

Baca Juga: KNPI Sulsel Dukung Pemprov Kelolah PT Vale di Luwu Timur

Kajian di lakukan agar segala keputusan dalam menjalankan aktivitas tersampaikan dengan baik pada para pemangku kepentingan. Di samping itu, PT Vale tetap memegang teguh nilai-nilai transparansi dan keterbukaan dengan masyarakat.

“PT Vale selama lebih dari 50 tahun telah berpengalaman di industri tambang nikel, kita bertumbuh bersama dengan masyarakat. Sebagaimana kita lihat di Sorowako, kita akan perluas di Pomalaa, Bahodopi dan berikutnya Tanamalia,” jelas Andy. (Ded/*)

Baca Berita dan Artikel Lain di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button