BisnisEkonomiMetroNews

Road to Pekan Reksa Dana 2026 digelar di Makassar, OJK dan APRDI dorong literasi investasi dan perluas partisipasi investor muda di Indonesia.

MAKASSAR, NEWSURBAN.ID β€” Industri reksa dana Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan sepanjang 2025 dengan total dana kelolaan (asset under management/AUM) menembus lebih dari Rp1.000 triliun. Momentum ini dimanfaatkan untuk memperkuat literasi dan inklusi investasi melalui program nasional PINTAR Reksa Dana serta rangkaian kegiatan β€œRoad to Pekan Reksa Dana 2026”.

Berdasarkan data yang dirilis Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia, total dana kelolaan investasi mencapai Rp1.007,65 triliun pada 2025, meningkat 25,19 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara khusus reksa dana, AUM tumbuh 35,06 persen menjadi Rp679,24 triliun.

Pertumbuhan tersebut turut diiringi peningkatan jumlah investor. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor reksa dana mencapai 19,2 juta Single Investor Identification (SID) pada akhir 2025, naik dari 18,6 juta pada 2024.

Menariknya, lebih dari 54 persen investor berasal dari kalangan usia di bawah 30 tahun, yang menunjukkan dominasi generasi muda dalam pasar investasi domestik.

Meski demikian, tingkat partisipasi masyarakat masih tergolong rendah dibanding jumlah penduduk usia produktif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk usia produktif mencapai sekitar 197 juta jiwa, namun investor reksa dana baru sekitar 21 juta atau sekitar 10,65 persen.

Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin, menyebut kondisi ini menunjukkan peluang besar untuk meningkatkan inklusi investasi di Indonesia.

β€œPotensi tersebut masih sangat besar dan perlu didorong secara serius agar partisipasi masyarakat semakin luas,” ujarnya di Makassar.

Penguatan Edukasi dan Roadshow Nasional

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Otoritas Jasa Keuangan bersama APRDI dan Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar rangkaian edukasi melalui program Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana 2026 (SOSEDU APRDI 2026).

Kegiatan ini dilaksanakan di sejumlah kota, antara lain Surabaya, Semarang, Medan, Makassar, dan Bandung, sebagai bagian dari rangkaian β€œRoad to Pekan Reksa Dana 2026” yang akan resmi diluncurkan pada 27 April 2026 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

Di Makassar, kegiatan meliputi edukasi bagi jurnalis dan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Negeri Makassar serta kampus mitra Galeri Investasi BEI.

Dorong Investasi Terencana untuk Pemula

Untuk memperluas akses investasi, OJK bersama APRDI juga meluncurkan program PINTAR Reksa Dana (Perencanaan Investasi Terencana dan Berkala). Program ini mendorong masyarakat untuk berinvestasi secara rutin dengan nominal terjangkau.

Skema ini memungkinkan masyarakat mulai berinvestasi dengan nominal rendah, mulai dari Rp10.000 hingga Rp300.000, melalui metode investasi berkala atau systematic investment plan (SIP) yang sejalan dengan konsep Dollar Cost Averaging (DCA).

Manajer Senior Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional OJK, Bunga Wahyuni, mengatakan jumlah investor reksa dana saat ini telah mencapai sekitar 20–24 juta orang, meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir.

Namun demikian, angka tersebut masih relatif kecil dibanding total populasi Indonesia yang mencapai sekitar 288 juta jiwa.

β€œArtinya, tingkat penetrasi masih sangat rendah. Ini menjadi peluang besar untuk meningkatkan inklusi keuangan, khususnya di kalangan anak muda,” ujarnya.

Berdasarkan data BPS 2025, jumlah penduduk usia 15–34 tahun mencapai 88,96 juta jiwa, namun investor reksa dana usia muda baru sekitar 12,82 persen.

Reksa Dana Dinilai Lebih Aman untuk Pemula

Dewan Presidium APRDI, Marsangap P. Tamba, menegaskan pentingnya edukasi investasi, khususnya bagi generasi muda yang kini mendominasi investor.

β€œReksa dana bisa dibilang cara paling mudah dan sederhana untuk mulai investasi. Namun, fenomenanya banyak investor langsung masuk ke saham tanpa memahami dasar diversifikasi,” ujarnya.

Menurut dia, investasi langsung pada saham memiliki risiko tinggi akibat fluktuasi harga. Sebaliknya, reksa dana menawarkan konsep diversifikasi karena dana investor dikelola secara kolektif oleh manajer investasi profesional.

β€œKalau beli saham sendiri, mungkin hanya satu atau dua emiten. Tapi melalui reksa dana, dana tersebar ke berbagai instrumen sehingga risikonya lebih terkelola,” katanya.

Produk dalam program PINTAR Reksa Dana juga difokuskan pada instrumen berisiko relatif rendah, seperti reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap, sehingga sesuai bagi investor pemula.

OJK Ingatkan Risiko dan Legalitas

OJK mengingatkan masyarakat agar tidak hanya berfokus pada potensi keuntungan, tetapi juga memahami risiko investasi.

Masyarakat diimbau memastikan legalitas produk, memahami manfaat dan biaya, serta tidak tergiur dengan penawaran yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal.

Sebagai bentuk perlindungan konsumen, OJK juga menyediakan layanan pengaduan serta bekerja sama dengan Satgas PASTI dalam menangani investasi ilegal.

Harapan Bangun Budaya Investasi

Melalui rangkaian β€œRoad to Pekan Reksa Dana 2026” dan program PINTAR Reksa Dana, APRDI dan OJK berharap masyarakat dapat membangun kebiasaan investasi yang sehat dan terencana sejak dini.

β€œHarapannya, generasi muda tidak hanya ikut tren, tetapi memahami investasi sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang,” ujar Marsangap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button